Tidak Chaos dengan Komunikasi (Sebuah Tanggapan untuk Primasulistya)
Saya tertarik dengan tulisan Prima yang berjudul Chaos terutama alinea terakhirnya: “Saya pikir, untuk meciptakan kondisi tak ada kuasa-menguasai, haruslah dibentuk suatu keadaan yang terus menerus chaos. Harus selalu ada pergesekan antara laki-laki dan perempuan untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing. Sehingga tak ada yang menjadi mapan, selain chaos itu sendiri. Chaos yang stagnan.” Yang saya tangkap adalah nada ketidaksetujuan terhadap kesetaraan, karena kesetaraan hanya dimungkinkan oleh adanya chaos dan chaos menghasilkan stagnasi.
Saya jadi teringat tentang munculnya kebudayaan-kebudayaan besar yang salah satunya sering ditandai dengan adanya peninggalan bangunan-bangunan megah seperti Piramida Mesir, Tembok Besar Cina, dan Candi Borobudur. Kemegahan bangunan-bangunan itu adalah hasil dari kemapanan sistem masyarakat di mana ada beribu-ribu orang tertindas yang dipaksa mengangkut bongkahan-bongkahan batu. Kemegahan kebudayaan modern pasca-Renaisans juga tak lepas dari kondisi kemapanan tersebut.
Saya takut bahwa selama ini kita terjebak pada ilusi tentang peradaban, sementara di sisi lain kita berjuang untuk kesetaraan di zaman kita ini (kesetaraan yang menurut Prima identik dengan chaos dan chaos identik dengan stagnasi peradaban). Dengan kalimat lain, peradaban besar yang selama ini kita agung-agungkan ternyata adalah hasil dari suatu penindasan (ketidaksetaraan).
Dengan kesadaran itulah kini saya sering memandang bangunan-bangunan megah masa lalu. Bangunan-bangunan itu adalah monumen yang patut dilestarikan dengan segala kemewahan dan keanggunannya, karya seni dan kecanggihannya, tetapi sekaligus juga kemuramannya. Sebab ia hanyalah buah dari suatu sistem penindasan.
Sebagai manusia tentu kita harus terus belajar dari masa lalu. Kita tak boleh menyerah dengan hukum-hukum alam. Bila dalam ranah ilmu-ilmu alam para ilmuwannya telah lama berpandangan bahwa mempelajari hukum-hukum alam adalah untuk dikreasikan menjadi lebih baik demi kepentingan manusia, maka dalam ranah ilmu-ilmu sosial juga harus memiliki semangat yang sama.
Mempelajari pola-pola sejarah dan hasrat-hasrat dasar manusia di dalamnya haruslah demi kepentingan kreasi yang lebih baik dalam sistem sosial kita. Bukankah para ilmuwan sosial garda depan kita di era kontemporer ini tengah berjuang untuk menggagas formula yang tepat bagi kesetaraan yang tidak semata-mata stagnan?
Salah satu yang tengah dikembangkan adalah rasio komunikatif oleh Habermas. Bekal ketaksadaran komunikatif kita ternyata dapat dimanfaatkan demi perjuangan kesetaraan. Namun syaratnya memang berat; kontrol kesadaran perlu diciptakan dalam pola-pola komunikasi kita. Siapa kita, untuk apa, kejujuran, dan kebenaran adalah beberapa syarat kesadaran yang diajukan. Segala argumen harus berani diperiksa bukti-buktinya (kok seperti di persidangan saja ya he he). Tapi pertaruhannya adalah sejauh mana kita berani menyingkirkan hasrat-hasrat egois kita dalam berkomunikasi (dapat dibayangkan tentu komunikasi bakal kurang asyik hi hi hi). Terlepas dari segala kelemahannya, tentunya tawaran-tawaran ini patut dipertimbangkan (tentunya agar mengalami kemajuan dalam kesetaraan, jadi biar tidak chaos dan stagnan ha ha ha). Tabik!





1